19 September, 2021

Sektor Pertanian Anjlok Karena La Nina

la lina

Ilustrasi La Lina (sumber: https://www.alaskasnewssource.com)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
memprediksi, fenomena La Nina mulai terjadi pada Oktober ini.
Dan akan mencapai puncaknya pada Desember 2020. Hingga
Januari 2021. La Nina adalah fenomena iklim yang menyebabkan
kenaikan curah hujan hingga 40 persen. Dibandingkan kondisi
normal.

Hal itu, disebabkan oleh tingginya suhu permukaan laut. Di
bagian barat dan timur Pasifik. Kondisi tersebut menyebabkan
tekanan udara pada ekuator Pasifik barat menurun. Yang
mendorong pembentukan awan berlebihan. Sehingga
menyebabkan curah hujan tinggi pada daerah yang terdampak.

BMKG menyebut, fenomena La Nina akan melanda hampir di
seluruh wilayah Indonesia. Kecuali Papua bagian timur dan
Sumatera. Jika tidak diantisipasi dengan baik, La Nina akan
berdampak pada penurunan sektor pertanian dan perikanan.
Bahkan, lebih buruk. Dapat memicu bencana hidrometeorologi.
Seperti banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung.

Henny Mappatangka, Ketua Wanita Himpunan Kerukunan Tani
Indonesia (HKTI) Kaltim mengatakan. Terlepas dari kondisi La
Nina, curah hujan di Kaltim, sudah tinggi sejak akhir Agustus
lalu. Dampaknya pada pertanian pun, sudah terasa. Banyak
tanaman yang rusak akibat curah hujan yang mengguyur
tanaman.

“Terlalu banyak hujan, tanaman busuk. Karena tanah lembab
banyak bakteri yang merusak,” keluhnya.

Obat yang disemprotkan ke tanaman juga akan luntur ketika
hujan mengguyur. Selain itu, tak jarang, angin kencang yang
datang bersama hujan. Merobohkan turus atau tiang penegak
pada tanaman. Sehingga banyak tanaman yang ambruk dan jatuh
ke tanah. Sehingga menurunkan produktivitas hasil panen.

Jika kondisi La Nina nantinya benar terjadi. Maka akan
memperparah kondisi sektor pertanian. Karena berpotensi
menyebabkan banjir pada lahan. “Memang serba salah. Kurang
hujan kering. Banyak hujan, tanaman mati,” imbuh Henny.

Kondisi ini, tentu saja merugikan para petani. Apalagi di tengah
kondisi pandemi COVID-19 seperti sekarang. Ketika ditanya
terkait langkah antisipasi yang bisa dilakukan. Henny mengaku
tak dapat berbuat banyak. Karena memang, kondisi La Nina
disebabkan oleh faktor alam. Dalam kondisi kemarau, antisipasi
masih mungkin dilakukan. Salah satunya, dengan menyiapkan
embung dan tabungan cadangan air.

“Tapi kalau curah hujan, agak sulit. Kecuali kita punya pawang
nomor wahid,” ungkap Henny.

Begitu pula disektor perikanan. La Nina juga akan berdampak
pada sektor ini. Tingginya curah hujan, akan menyebabkan
nelayan tidak bisa melaut. Sehingga stok ikan dipasaran akan
terbatas dan harga bisa meningkat.

Henny pun menyebut, seharusnya ada peringatan dini ancaman
La Nina dari pihak terkait. Dalam hal ini, dinas pertanian mau
pun dinas perikanan. Sehingga para petani dan nelayan bisa
mengantisipasi sejak awal kondisi tersebut.

“Sekarang, mesin pertanian sudah luar biasa. Tapi, tidak ada
artinya kalau melawan cuaca. Jadi perlu kesiapan menghadapi
kondisi ini,” ungkapnya.

Ia pun mengimbau para petani dan nelayan untuk bersabar
menghadapi kondisi ini. “Artinya begini, setiap manusia dijamin
rezekinya oleh Allah. Rezeki itu di langit bukan di laut atau di
sawah. Itu hanya sarana usaha saja,” pungkasnya.

Terpisah, Gusti GN pembudidaya tambak di daerah Muara
Pantauan, Kutai Kartanegara menyebut. Cuaca sangat
berpengaruh pada kondisi lahan budidaya. Di kolam tambak,
intensitas hujan tidak boleh terlalu sering. Karena akan
mengurangi kadar garam.

“Tapi tidak bisa juga terlalu panas, karena akan keasinan,” jelas
Gusti. Perkiraan La Nina kata dia memang akan merepotkan.
Namun, masih bisa diatasi. Dengan mengatur sirkulasi air pada
kolam tambak.

“Sirkulasi air, yang kita mainkan. Keluarkan air yang diatas, lalu
ganti baru,” pungkasnya. (krv/yos)

Read Previous

Yang Tersisa dari Debat Samarinda

Read Next

Penanganan Pandemi Sudah Terlambat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *